Ada pula kisah yang datangnya dari pengalaman teman seperjuangan saya dari Madura. Namanya Mas Ipin, bukan dia lebih tua daripada saya, namun memang namanya begitu. Dia anak pertama dari 5 bersaudara. Dia anak dari keluarga petani, di sebuah desa pinggiran, Plakpak, Kabupaten Pamekasan. Di sawah mereka ditanami padi jika musim penghujan dan jagung jika musim kemarau. Namun, hasil pertanian mereka tidak dijual, bahan makanan itu disimpan dalam rumah untuk dimakan sendiri. Sedangkan keuangan mereka dapat dari menjadi buruh tani sawah orang lain, itupun hanya dibayar Rp. 500.000 tiap 3 bulan. Selain itu keluarga petani ini juga merawat ternak, sapi, milik orang yang kemudian hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. Mereka tidak punya tanah sendiri untuk dibangun rumah, oleh karena itu mereka membangun rumah di tengah areal sawah, tanah warisan yang sekaligus sumber penghasilan mereka agar kompor dapurnya tetap bisa ngebul. Begitulah lika-liku kehidupan mereka dalam menjalani hidup. Semangat juang menghadapi setiap tantangan dalam hidup dan tak mau meminta-minta.

Ternyata semangat itu menurun dalam diri Mas Ipin. Semangat yang besar untuk melanjutkan sekolah membuatnya terus berjuang dalam menjalani setiap jenjang pendidikannya. Alhasil, dia selalu menduduki peringkat teratas di MTs yang ada di desanya. Setelah tamat dari MTs, dia ingin sekali melanjutkan ke jenjang SMA. Niatnya itu ia utarakan pada kedua orang tuanya. Namun kedua orang tuanya tidak serta merta meng-‘iya’-kan kemauan Mas Ipin, karena masalah ekonomi. Mereka ingin Mas Ipin ikut membantu orangtuanya bekerja di rumah. Sebab adik-adiknya masih banyak yang harus dibiayai untuk sekolah. Sempat ada niat Mas Ipin untuk putus sekolah, namun dorongan dari guru-guru dan keluarga lain (paman, bibi dan kakek) untuk ikut membujuk orang tuanya membuat Mas Ipin bertahan. Melihat kemauan besar dari anaknya dan dukungan dari semua pihak agar Mas Ipin dapat melanjutkan sekolah, akhirnya orangtuanya mengijinkan Mas Ipin untuk melanjutkan ke SMA. Namun, kedua orangtuanya mengingatkan sekaligus minta maaf jika dalam perjalanannya dia harus putus sekolah jika sudah tidak ada biaya lagi. Berbekal uang hutang dan sumbangan dari orang-orang yang mendukung Mas Ipin ke SMA, iapun berangkat ke kota.

Tak tanggung-tanggung, SMA yang dia incar adalah salah satu sekolah SMA terbaik di Madura, SMAN 3 Pamekasan. Bersama denganku, dia mengikuti Penjaringan Siswa Unggul Berprestasi (PSUB). Ini adalah jalur masuk kelas Unggulan Utama (kuota 30 teratas hasil ujian siswa se-Madura, biaya pendidikan gratis selama SMA dan berbagai fasilitas gratis) dan kelas Unggulan Pendamping (kuota 35 siswa, mulai dari peringkat 31 s/d 65 hasil PSUB, biaya pendidikan ditanggung siswa, dengan perlakuan sama dengan Unggulan Utama). Sekitar 3 minggu kemudian, keluarlah pengumuman hasil PSUB. Mas Ipin harus sedikit kecewa, memang ia diterima melaui jalur khusus di SMAN 3 Pamekasan, namun ia hanya diterima di Unggulan Pendamping (biasalah, anak dari kecamatan biasanya suka kaget dengan persaingan saat mereka sekolah di kota, seperti pengalaman saya, mungkin dia hanya butuh adaptasi). Dia syukuri apa yang ia dapat, sebab pada dasarnya sama-sama kelas Unggulan.

Di kota, ia numpang di tempat kos teman sekelasnya. Ia coba berhemat biaya agar tetap terus sekolah. Ia jalani sekolahnya dengan rajin dan tekun, dengan tak lupa mendekatkan diri pada Allah. Kemampuannya yang luar biasa dalam setiap mata pelajaran membuatnya selalu menjadi peringkat 1 di kelasnya. Selain itu juga, ada beberapa perlombaan bidang akademik, baik tingkat kabupaten maupun propinsi yang ia juarai, padahal ia masih kelas X SMA. Hal ini membuatnya mendapatkan beasiswa tidak mampu dan berprestasi selama kelas X.

Kenaikan kelas dari kelas X ke XI, ada yang namanya tes degradasi. Berdasarkan hasil raport semester 2, 5 peringakt terbawah kelas Unggulan Utama akan dites lagi dengan semua peringkat 1 tiap kelas untuk bisa memperebutkan 5 kursi di kelas Unggulan Utama. jika berdasarkan hasil tes itu ada anak kelas reguler atau unggulan pendamping yang melampaui hasil tes 5 peringkat terbawah Unggulan Utama, maka mereka bisa masuk Unggulan Utama dan siswa yang kalah harus keluar dari kelas esklusif itu. Nah, karena Mas Ipin adalah peringkat 1 dari Unggulan Pendamping, maka ia ikut dalam tes tersebut.

Sungguh sangat bersyukur saat itu, Mas Ipin berhasil mengalahkan salah seorang siswa Unggulan Utama dan bisa bergabung denganku yang sudah dari awal disana. Ia sangat senang karena ia tidak perlu lagi mengharap uang dari orang tua hanya untuk biaya pendidikan, sebab semua biaya dan fasilitas gratis sampai lulus. Lama kelamaan, kemampuannya itu ia kembangkan di kelas kami, yang awalnya ia hanya ada di peringkat-peringkat bawah, pada semester 2 ia sudah bisa masuk peringkat 10 besar kelas. Selain itu juga, di kelas XI ini juga ada kejuaraan tingkat nasional yang ia juarai. Sungguh luar biasa.

Tak hanya sampai di situ, perjuangannya yang gigih dalam pendidikannya, ketika kelas XII, teman-teman se kelas mendukung dia untuk terus malanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal orangtuanya sudah angkat tangan masalah biaya, tidak mungkin mereka punya uang berjuta-juta untuk biaya masuk dan saat kuliah nanti. Berdasarkan kesepakatan teman sekelas, kami mengajukan Mas Ipin untuk diikutkan dalam PBUTM (Pernjaringan Bibit Unggul Tidak Mampu) UGM yang kuotanya hanya 2 orang tiap sekolah, kami sengaja mengalah agar ia dapat melanjutkan jenjang pendidikannya.

Subhanallah,, setelah 1 bulan menunggu akhirnya pengumuman keluar dan ia diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, UGM, Teknik Nuklir pula, jurusan yang hanya satu-satunya di Indonesia, hanya di UGM. Saat sebagian besar dari kami bingung mencari Universitas, ia sudah mempunyai tujuan yang mapan. Semua biaya pendidikan gratis, namun akan dievaluasi lagi dari hasil ujian tiap semesternya, untuk keberlanjutan beasiswa tersebut. Orang tuanya sangat bangga, anak yang dulu mereka harapkan hanya menjadi buruh tani juga seperti kedua orangtuanya, sekarang akan menjadi calon orang sukses. Padahal, di desanya sangat jarang anak muda yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.

Saya harap pengalaman teman saya ini dapat meberikan inspirasi pada pembaca. Allah pasti akan memberikan jalan selama ada usaha, kerja keras, dan pantang menyerah dengan niat yang baik.

Dalam kesempatan kali ini ingin rasanya membagi secuil cerita dan sepenggal pengalaman pribadi penulis dalam menapaki kehidupan ini (walaupun sedikit curhat sich..). Harapannya para pembacanya dapat terispirasi oleh cerita ini. Terinspirasi to always keep moving, tanpa melihat kelemahan kita. Ketika saya SD, saya bersekolah di 2 tempat yang berbeda. Kelas 1 sampai dengan pertengahan kelas 3 SD, saya bersekolah di SDN Bluto I, itu adalah sekolah kecil di sebuah kecamatan yang jauh dari kota pula, di sebuah kabupaten paling timur Pulau Madura. Ketika berada sekolah itu, saya selalu bertengger di peringkat 3 teratas. Walaupun sebenarnya usaha yang saya lakukan tidak optimal. Saya bisa dengan mudah meraih itu (maklumlah,, namanya juga SD di desa, kecamatan pelosok pula).

Namun semuanya berubah ketika kedua orang tua saya pindah rumah ke kota. Untuk memudahkan proses belajar yang sedang saya jalani, merekapun turut memindahkan sekolah saya ke sekolah yang paling favorit di kota itu, SDN Pajagalan I (pada awal tahun 2000-an sich jaya-jayanya, sekarang sepertinya sudah bukan lagi,, hiks). Awalnya saya menganggap remeh para pesaing yang ada di sana, hanya ada 1 orang cewek yang paling menonjol di kelas itu yang saya anggap sebagai pesaing. Tapi ternyata pikiran itu berubah ketika pengumuman hasil ujian cawu 2 (Waaah…. ternyata q masih kebagian cawu y..). Ketika kubandingkan hasil ujian dengan punya dia, sungguh sangat jauh berbeda. Semua nilai ujiannya 10 semua kecuali olahraga (maklumlah,, namanya juga kaum hawa, kan kebanyakan lemah). Sedangkan nilai yang kudapat standart, ad 7-nya, banyak 8-nya, sedikit 9-nya dan tanpa 10-nya. Apa yang saya lihat ketika pembagian raport?? Saya tidak masuk peringkat 10 besar kelas. Sungguh hal yang sangat memalukan, dari jadi orang yang selalu masuk 3 peringkat teratas, tiba-tiba lenyap tak bersisa (hhuuuffftt…). Setelah saya cari tahu, ternyata yang sekelas dengan saya adalah anak-anak orang hebat di kota ini, seperti anak beberapa Dokter tersohor di kota ini, anak ketua DPR, anak pimpinan RSUD, anak Kapolda, anak seorang profesor dan lain-lain (pantas aja saya dengan mudah bisa dikalahkan, saya yang  hanya anak orang pas-pasan, ini bersain dengan anak orang-orang yang benar-benar merawat anaknya dengan sebaik-baiknya, dengan berbagai fasilitas yang tidak saya punya,, termasuk buku-buku yang lengkap).

Ketika itu juga, keluargaku sedang ditimpa musibah. Ayah yang selama ini sakit-sakitan di panggil menghadap Sang Khaliq (Hiks… hiks.. hiks.. ). Mungkin saat itu aku tak mengerti apa yang sebarnya terjadi, namun yang aku tau waktu itu, ibu sangat sedih dan semua kesetimbangan yang ada selama ini goyah. Di tengah kesedihan itu, aku berpikir tentang pesan terakhir ayah padaku sebelum berangkat ke rumah sakit. Ayah bilang kalau ayah ingin punya anak yang pinter, yang nurut sama orang tua (saat itu, ayah hanya bilang itu padaku, malam sebelum ayah masuk rumah sakit, tidak pada adik ataupun kakakku,, dan anehnya ingatan itu muncul kembali saat ayah akan dikebumikan,, dan aku duduk di samping kuburannya). Sejak muncul pikiran itulah perubahan dalam diriku dimulai. Aku berniat untuk bisa membuat ibu bangga. Tak ada lagi yang ku punya selain ibu di dunia ini sekarang. Deden yang dulunya adalah Saya, sekarang berubah jadi Deden yang Aku. Seorang anak kecil yang berkemauan keras dengan semangat tinggi. Kini aku tak lagi lihat status mereka, yang aku lihat adalah apa yang sudah aku perbuat untuk membanggakan ibu. Mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi yang ku pikirkan saat itu adalah, untuk membanggakan ibu aku harus masuk peringkat 10 besar.

Sejak saat itulah aku terasa menghilangkan masa kanak-kanakku. Masa yang seharusnya bermain, aku malah sibuk belajar. Namun tetap saja setiap pembagian raport aku tidak pernah mendapatkan peringkat 10 besar kelas. Namun kemauanku yang keras dapat megantarkan aku pada perikngkat 10 besar itu. Saat kelas 6 semester 2, saat peringkat sudah tidak lagi diperhitungkan, saat peringkat sudah tidak lagi ditulis di raport, aku bertanya pada seorang lelaki jangkung, wali kelas kami. “Pak,, saya peringkat berapa?? Kok nggak di umumin pas pembagian raport tadi??”, sambil melihat lagi daftar nilai teman-teman sekelas, beliau menjawab “Selamat ya den, kamu dapat peringkat 8. Tadi sengaja tidak bapak umumkan karena yang penting kamu sekarang uda lulus SD.” Tak bisa ku gambarkan bagaimana bahagianya aku saat aku bisa masuk peringkat 10 besar. Perjuanganku selama 3 tahun di sekolah itu berbuah manis. Aku bisa mencapai mimpi itu di penghujung waktuku.

Berbekal semangat yang besar, diikuti rasa bahagiaku pergi dari Sekolah Dasar itu dengan mimpi yang telah tercapai. Aku melangkahkan kaki ke SMP favorit di kota ini. Dan tanpa rintangan yang berarti, aku di terima (mungkin inilah buah kerjaku selama 3 tahun di SDN Pajagalan 1). Di SMP inilah aku mulai membuat ibuku sangat bangga. Teman-teman SD-ku dipencar ke kelas-kelas yang berbeda. Sehingga sainganku tidak sesulit dulu dan aku bisa berkreasi di kelas. Aku berhasil masuk peringkat 10 besar paralel, aku tak lepas dari peringkat 5 besar di kelas, dan ada beberapa prestasi kejuaraan yang ku menangkan. Subahanallah.. “Nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan”. Aku merasa nikmat Allah sudah begitu luar biasa, namun ternyata tidak berhenti di situ. Saat aku masuk di salah satu sekolah paling favorit di Madura. Aku mendapat beasiswa biaya pendidikan sampai lulus di kelas unggulan pula (itu adalah kelas yang disediakan oleh pemerintah karesidenan madura, hanya untuk 30 siswa-siswi terbaik madura). Bertemu pesaing baru dari berbagai pelosok pulau garam ini. Tak jauh beda dengan masa SMP, prestasi dan kejuaraan pun berkali-kali kudapatkan. Tak terbayang bagaimana bangganya ibu di rumah. Namun bedanya, disinilah aku mulai mengenal Allah. Sekolah yang semi pesantren mengantarkanku pada kehidupan yang lebih tentram.

Hingga akhirnya sekarang, aku berada di salah satu Universitas terbaik di negeri ini. Bogor Agricultural University (ibu pasti sangat bnagga atas semua hasil dan kerja kerasku ini). Di tempat yang mungkin tidak semua orang bisa mencapainya, bertemu pesaing baru, budaya baru dan banyak hal baru yang harus dipelajari. Allahuakbar!!! Sungguh Dia sangat baik pada hambanya yang mau berusaha dan bekerja keras.

So the point is, perubahan besar dilakukan oleh diri kita sendiri. Bukan dari orang lain, maka jangan selalu melihat kelebihan atau kekurangan orang lain. Tapi lihat kelebihan dan benahilah kekurangan yang ada di diri kita sendiri.